Seni Bersikap Bodo Amat Ala Oreki Hotarou - Keyibe
News Update
Loading...

Sunday, December 27, 2020

Seni Bersikap Bodo Amat Ala Oreki Hotarou

Seni Bersikap Bodo Amat Ala Oreki Hotarou


Seni Bersikap Bodo Amat Ala Oreki Hotarou

Oreki Hotarou, adalah protagonist dari novel karya Yonezawa Honobu-sensei yang dinamai Kotenbu Series (〈古典部〉シリーズ , "Koten-bu" shirīzu) oleh para pembacanya dan telah memenangi banyak penghargaan bergengsi di Jepang. Novel ini sendiri telah mendapat adaptasi ke media lain seperti Manga, Live action, dan Anime, dengan judul buku pertamanya yaitu “Hyouka”. Moto paling fenomenal dari Oreki Hotarou adalah, “Jangan lakukan jika tidak ingin melakukannya. Jika memang harus, lakukanlah secepat mungkin.” 

Sedangkan kalimat “Seni bersikap bodo amat” saya ambil dari judul buku karya Mark Manson dengan judul bahasa Inggris “The subtle art of not giving a fxxck”. 

Lalu, apa hubungan kedua hal itu? Di sini saya ingin membahas tentang sikap, sifat, dan pemikiran dari karakter Oreki Hotarou yang sangat mendefinisikan buku milik Mark Manson tadi.

Dalam bukunya, Mark Manson menyebutkan untuk bersikap masa bodo terhadap sejumlah hal, dan bertanggung jawab kepada hal lainnya. Memilih prioritas.

Seni #1: Masa bodoh bukan berarti menjadi acuh tak acuh; masa bodoh berarti nyaman saat menjadi berbeda

Pertanyaan, kemudian, adalah, Apa yang kita pedulikan? Hal apa yang kita pilih? Dan bagaimana agar kita masa bodoh terhadap hal yang memang tidak ada maknanya? Tanya Mark Dalam bukunya.

Oreki menentukan apa yang penting baginya, dan bagi orang lain. Lalu menentukan apa yang tak penting baginya, dan juga bagi orang lain. Dia bukanya pemalas, bukannya bersikap bodo amat kepada segala hal, tapi dia menentukan prioritasnya.

Dalam Hyouka #1, Oreki dimintai tolong oleh Chitanda Eru—salah satu main character dalam series ini—untuk mengungkap misteri klub sastra 45 tahun lalu. Awalnya Oreki menolak, karena baginya, itu hanyalah keinginan egois dari Chitanda Eru yang penasaran akan misteri 45 tahun lalu. Akan tetapi, setelah mengetahui kalau keinginan Chitanda itu merupakan hal yang sangat penting bagi Chitanda, ia mengubah pemikirannya. 

Oreki bersedia membantu Chitanda. Karena, dia tahu, permintaan itu bukanlah keegoisan dari Chitanda yang ingin memanfaatkan dirinya. Itu adalah keinginan terdalam Chitanda, yang berarti prioritas Chitanda. Bahkan dijelaskan, kalau Chitanda Eru mengalami konflik batin hanya untuk meminta pertolongan Oreki. 

Adalah jahat jika Oreki menolak permintaan itu hanya karena rasa malasnya, hanya karena sifat acuh tak acuhnya. Maka dari itu, pada akhirnya Oreki menerima permintaan itu.

Ah, maaf terbelit dan terkesan tidak nyambung. Yang ingin saya sampaikan disini adalah cara Memilih prioritas kepedulian kita.

Bukan bersikap bodo amat terhadap segala hal, namun memilah apa yang penting dan tidak penting.

Di sini saya akan mengambil contoh: saya memiliki uang Rp.52.000,00 untuk saya membeli kuota internet. Namun ketika dalam perjalanan ke konter, sandal saya putus. Saya bimbang. Apakah saya harus membeli kuota, atau membeli sandal terlebih dahulu.

Di sinilah saya diuji memilih prioritas saya. Saya harus membeli kuota dahulu, atau sanda dahulu.

Saya memikirkannya dalam-dalam. Jika saya membeli kuota terlebih dahulu, itu berarti saya harus nyeker(tidak mengenakan alas kaki untuk sementara). Jika saya membeli sanda terlebih dahulu, saya harus menunda membeli kuota saya.

Apa akibat dari saya membeli kuota dahulu?

Jawabannya: saya harus nyeker selama perjalanan ke konter sampai pulang. Setelah pulang, saya mungkin saja bisa membetulkan ulang sandal saya yang putus tadi. Jadi akibatnya hanya sementara, yaitu saya harus menahan malu dan panas kaki ketika perjalanan pulang.

Lalu, apa akibatnya jika saya membeli sandal terlebih dahulu, dan menunda membeli kuota internet?

Jawabannya: Saya tidak bisa bekerja. Saya adalah karyawan suatu studio kecil yang saat ini sedang bekerja di rumah (work from home). Jika saya tidak membeli kuota internet, saya tidak bisa bekerja. Jika saya tidak bisa bekerja, bisa-bisa saya dipecat oleh bos. Benar-benar akibat yang fatal.

Jadi, kalian sudah tahu, kan, pilihan mana yang saya pilih? Saya tetap membeli kuota internet, dan menahan malu karena harus nyeker ketika perjalanan pulang. 

Malu itu sementara. Tidak perlu saya pikirkan terlalu dalam. Biar lah. Prioritas saya bukan ke sana. Saya harus memprioritaskan pekerjaan saya dari pada rasa malu saya yang sementara ini, pikir saya.

***

Kembali lagi ke Oreki Hotarou. Sama seperti Oreki, saya memprioritaskan apa yang penting bagi saya. Apa yang berdampak besar bagi kehidupan saya.

Mungkin, jika Oreki menolak permintaan Chitanda waktu itu, mereka tidak akan berteman baik lagi. Chitanda akan menganggap Oreki orang yang bebal dan egois yang mementingkan rasa malasnya. Sedangkan Oreki tetap menganggap Chitanda tetap gadis yang mementingkan ego rasa penasarannya.
 
Antologi klub sastra berjudul Hyouka tidak akan dibuat. Chitanda akan terus hidup dalam bayang-bayang rasa penasarannya tentang misteri klub sastra 45 tahun lalu. Dan banyak akibat lainnya.

Sama seperti saya pada contoh di atas, jika saya mementingkan rasa malu saya, mungkin saja saya nantinya tidak akan makan selama 1 bulan. Lol.

Note* tadi hanya contoh, bukan kejadian asli, background saya juga bukan karyawan studio, kok, hanya pelajar.

-----------

Jadi, apa kalian mengerti apa yang ingin saya sampaikan? Tidak? Jika tidak, saya ingin meminta maaf karena memberi penjelasan yang berbelit. Di sini saya hanya ingin mengingatkan lagi kepada kita semua untuk memikirkan lagi prioritas kita. 

Saat ini sendiri, banyak sekali orang-orang yang salah memilih prioritasnya. Anak SD, SMP, SMA/SMK sekarang lebih mementingkan tier dalam game mereka, dan melalaikan kewajiban mereka sebagai pelajar. Saya memaklumi jika mereka memang serius dalam hal itu. Mereka mengikuti turnamen dan memenangkan penghargaan, dll. Tapi, apa? Lihat saja. Ketika mereka ditanya tentang masa depan dan cita-cita, mereka akan menjawab, “Pengen jadi karyawan kantor!” atau, “Pengen jadi guru/sejenisnya!” atau yang paling sederhana, “Pengen masuk kuliah dulu aja....”

Serius, bro? Pikirku. Lu ingin masuk kuliah, jadi karyawan, guru, dll, hanya modal main game, yang belum tentu lu jago dalam game itu? Hadeh. Mereka bersikap bodo amat pada pelajaran yang sebenarnya penting untuk masa depan mereka. 

Ya, jadi intinya. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk sekali lagi memikirkan prioritas kita. Lihatlah dampak dari suatu hal dalam jangka panjang. Lihatlah dampak mana yang tidak terlalu buruk dan mana yang jauh lebih buruk.

Kemudian, putuskan prioritasmu!

Seperti Oreki Hotarou dan seperti Mark Manson
Bersikap bodo amat, malas, hemat tenaga, itu ada seninya. Ingatlah itu.

Sekian, Terima Kasih!

Source:

1) Hyouka Books #1

2) Hyouka Anime

3) The Subtle Art Of Not Giving A Fxxck

CC : Feryadi

Share with your friends

1 comment

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done